Kadar air cengkeh kering yang IDB cantumkan maksimal 12 persen. Begini pemilik barang mengecek kadar air rempah sendiri, mengambil contoh yang mewakili, dan menjaga angkanya sampai hari muat.

Jawaban singkatnya: untuk cengkeh kering, batas kadar air yang kami cantumkan di halaman komoditas IDB adalah 12 persen. Lada 13 persen, pala 10 persen, kayu manis 14 persen. Cara mengeceknya ada tiga, dari yang paling kasar sampai yang paling teliti: tanda fisik saat digenggam, alat ukur kadar air, dan cara timbang lalu keringkan. Yang paling menentukan justru bukan alatnya, tetapi cara mengambil contoh dan kapan barang diukur.
Kenapa angka ini perlu Anda pegang sendiri? Kadar air adalah angka yang paling sering membuat barang ditawar turun atau ditolak, dan angkanya bisa berubah antara gudang Anda dan hari muat. Cengkeh yang minggu lalu sudah kering bisa kembali lembap kalau disimpan di lantai semen saat musim hujan. Petani atau pengepul yang tahu angka barangnya sendiri bisa berunding dengan tenang, tidak sekadar menerima hasil ukur pihak lain.
Apa itu kadar air, dan kenapa pembeli luar menanyakannya
Kadar air adalah bagian dari berat barang yang berupa air. Kalau 100 kilogram cengkeh kadar airnya 12 persen, berarti sekitar 12 kilogram di antaranya air. Bagi pembeli, angka ini menyangkut dua hal. Pertama, mereka membayar barang, bukan air. Kedua, barang yang terlalu basah mudah rusak di perjalanan.
Bagian kedua ini yang sering tidak terbayang. Barang ekspor tertutup di dalam kontainer selama berminggu-minggu. Uap air dari barang mengembun di dinding dan atap kontainer, lalu menetes ke karung paling atas. Cengkeh dengan kadar air di atas 12 persen mudah berjamur dalam kondisi seperti itu. Kemiri punya masalah lain: kandungan minyaknya tinggi, jadi kalau dikemas sebelum cukup kering, cepat tengik.
Batas kadar air untuk tiap barang
Angka berikut adalah yang IDB cantumkan di halaman komoditas. Anggap sebagai patokan awal. Pembeli tertentu bisa meminta angka yang lebih ketat, dan yang berlaku untuk satu transaksi adalah angka yang tertulis di kesepakatan.
- Cengkeh: maksimal 12 persen.
- Lada putih dan lada hitam: maksimal 13 persen.
- Pala: maksimal 10 persen.
- Kayu manis: maksimal 14 persen.
- Kunyit kering: maksimal 10 persen.
- Kapulaga lokal kering: maksimal 12 persen.
- Biji kakao: maksimal 7,5 persen.
- Kemiri: maksimal 6 persen.
Perhatikan bahwa angkanya berbeda jauh. Batas kakao dan kemiri kurang dari separuh batas kayu manis. Jadi jangan memakai satu ukuran "sudah kering" untuk semua barang di gudang Anda.
Cara pertama: tanda fisik, untuk perkiraan kasar
Petani cengkeh biasanya sudah punya rasa sendiri. Cengkeh yang cukup kering terasa keras, gagangnya patah dengan bunyi kering saat ditekuk, dan segenggam cengkeh berbunyi gemerisik kalau diremas. Cengkeh yang masih menyimpan air terasa liat, gagangnya melentur, dan terasa dingin di telapak tangan. Lada yang sudah kering berbunyi nyaring saat dituang ke wadah.
Cara ini berguna untuk memutuskan kapan barang berhenti dijemur, tetapi tidak cukup untuk berunding. Beda 11 persen dan 14 persen hampir tidak terasa di tangan, padahal yang satu masuk batas dan yang lain tidak. Untuk itu Anda butuh angka.
Cara kedua: alat ukur kadar air
Alat ukur kadar air (moisture meter) untuk biji-bijian dan rempah dijual bebas. Ada yang berbentuk tusuk, ada yang berupa wadah tempat contoh barang dituang. Alat ini membaca sifat listrik barang lalu menerjemahkannya menjadi persen kadar air. Karena sifat tiap barang berbeda, alat ini memakai setelan per jenis barang. Cengkeh yang diukur dengan setelan jagung atau gabah akan memberi angka yang meleset.
Beberapa kebiasaan supaya angkanya bisa dipegang:
- Pilih alat yang punya setelan untuk barang Anda, atau yang bisa disetel ulang (dikalibrasi).
- Ukur barang yang sudah dingin. Cengkeh yang baru diangkat dari jemuran masih hangat, dan angkanya bisa melenceng.
- Ulangi dua atau tiga kali untuk contoh yang sama, lalu pakai rata-ratanya.
- Sesekali cocokkan hasil alat dengan cara ketiga di bawah, supaya Anda tahu alatnya masih bisa dipercaya.
Cara ketiga: timbang, keringkan, timbang lagi
Prinsipnya sederhana. Timbang contoh barang, keringkan di oven sampai beratnya tidak turun lagi, lalu timbang kembali. Selisih beratnya adalah air yang hilang.
Contoh hitungannya: 100 gram cengkeh setelah dikeringkan tinggal 89 gram. Air yang hilang 11 gram, jadi kadar airnya 11 dibagi 100, yaitu 11 persen. Kalau contohnya 50 gram dan tersisa 44 gram, kadar airnya 6 dibagi 50, yaitu 12 persen. Pakai timbangan digital yang cukup teliti, karena selisih satu gram saja sudah menggeser hasil.
Ada satu catatan untuk rempah beraroma seperti cengkeh dan pala. Minyak atsirinya ikut menguap di oven, sehingga cara ini cenderung memberi angka sedikit lebih tinggi dari kadar air yang sebenarnya. Karena itu laboratorium penguji rempah memakai metode lain. Gunakan cara oven untuk membandingkan, misalnya mengecek apakah alat ukur Anda masih masuk akal, bukan sebagai angka resmi.
Ambil contoh yang mewakili seluruh barang
Kesalahan paling umum bukan di alat, tetapi di contoh. Karung paling atas di gudang biasanya paling kering karena kena udara, sementara karung di bawah tumpukan atau dekat dinding bisa lebih lembap. Kalau yang diukur hanya karung atas, angkanya bagus di gudang lalu meleset saat diperiksa sebelum muat.
- Ambil sedikit dari bagian atas, tengah, dan bawah beberapa karung, termasuk yang ditaruh dekat dinding atau lantai.
- Campur semuanya di wadah bersih, lalu ukur dari campuran itu.
- Kalau barang berasal dari beberapa petani, ukur per kelompok dulu sebelum digabung. Satu kelompok yang basah bisa menaikkan angka seluruh lot.
- Catat tanggal ukur, karung mana saja yang diambil, dan hasilnya. Catatan sederhana ini membantu ketika ada yang mempertanyakan angka Anda.
Menjaga angkanya tetap rendah sampai hari muat
Rempah kering mudah menyerap lembap lagi dari udara. Jadi yang perlu dijaga bukan hanya proses jemur, tetapi juga minggu-minggu sesudahnya.
- Jemur di atas terpal, para-para, atau lantai jemur yang bersih, jangan langsung di tanah. Hamparkan tipis dan bolak-balik supaya keringnya rata.
- Angkat atau tutup barang sebelum hujan dan menjelang malam, karena embun ikut menambah air.
- Biarkan barang dingin dulu sebelum dikarungkan, supaya uap tidak terperangkap di dalam karung.
- Simpan karung di atas palet atau alas kayu, beri jarak dari dinding, dan jaga gudang tetap berangin.
- Ukur ulang menjelang barang diambil, terutama kalau sudah lama tersimpan atau melewati beberapa hari hujan.
Soal pilihan karung dan cara menumpuknya, penjelasan lengkapnya ada di artikel kemasan barang ekspor.
Kalau angkanya masih di atas batas
Jangan buru-buru dijual. Barang yang kadar airnya sedikit di atas batas biasanya cukup dijemur ulang. Yang perlu dihindari adalah mencampur barang basah dengan barang kering supaya rata-ratanya turun. Di dalam karung, bagian yang basah tetap basah dan tetap bisa memicu jamur, berapa pun angka rata-ratanya.
Belum punya alat ukur sama sekali juga bukan penghalang. Sampaikan saja dari awal. Kadar air termasuk yang IDB periksa sebelum pemuatan, dan untuk cengkeh hasilnya kami cantumkan di dokumen pengiriman. Mutu lain yang biasa diminta pembeli untuk cengkeh, misalnya kadar gagang, dibahas di artikel cengkeh kering untuk ekspor.
Mulai dari barang yang Anda punya
IDB bisa membantu Anda menjual rempah ke luar negeri, dengan membeli barang Anda langsung atau mengirimkannya atas nama IDB, termasuk memeriksa kadar air dan mutunya sebelum barang dimuat. Sebutkan jenis barang, perkiraan jumlah, angka kadar air kalau sudah pernah diukur, dan lokasi barang lewat WhatsApp 081776744062 atau formulir di halaman ekspor lewat IDB. Dari situ kami bisa melihat apakah barang Anda sudah siap atau perlu dikeringkan dulu, dan jalur ekspor mana yang paling masuk akal.