Kemasan barang ekspor mengikuti jenis barang dan permintaan pembeli. Begini pemilik barang menyiapkan karung, drum, atau bal yang kering, seragam beratnya, dan siap diperiksa sebelum dimuat.

Jawaban singkatnya: kemasan barang ekspor yang baik itu sederhana. Jenis kemasannya sesuai barang, isinya sudah kering, beratnya seragam per kemasan, dan setiap karung atau drum bisa dilacak asal lotnya. Kebanyakan masalah yang muncul di negara tujuan bukan karena karungnya kurang bagus, melainkan karena barang dikemas terlalu cepat atau ditumpuk di tempat yang lembap.
Kalau Anda biasa menjual ke pengepul atau pasar dalam negeri, semua ini mungkin terasa berlebihan. Karung yang sama sudah dipakai bertahun-tahun dan tidak ada yang protes. Bedanya, barang ekspor akan tertutup di dalam kontainer selama berminggu-minggu di laut, lalu dibuka oleh pembeli yang belum pernah melihat gudang Anda. Apa yang tidak kelihatan di gudang sering baru ketahuan di sana.
Artikel ini membahas kemasan yang lazim untuk tiap jenis barang, cara menjaga barang tetap kering sampai hari muat, soal berat dan penandaan, serta apa saja yang diperiksa sebelum kontainer disegel.
Kemasan mengikuti jenis barang, bukan selera
Setiap komoditas punya kemasan yang sudah lazim dalam perdagangan, dan pembeli luar negeri biasanya sudah punya bayangan sendiri. Patokan yang kami pakai di halaman komoditas IDB kira-kira seperti ini:
- Rempah kering: cengkeh dan kemiri dalam karung 50 kg, lada 25 kg atau 50 kg, pala dan kapulaga 40 kg, kunyit 25 kg.
- Kopi dan biji kakao: karung goni 60 kg.
- Minyak nilam: drum 180 kg. Minyak kelapa: drum 200 kg, atau flexitank untuk volume besar.
- Kapuk dan serat kelapa: dipres menjadi bal sekitar 100 sampai 110 kg. Cocopeat dipadatkan menjadi blok 5 kg.
- Vanili basah: dikemas vakum di dalam karton, karena penanganannya jauh lebih ketat.
Angka di atas patokan, bukan aturan. Ada pembeli yang meminta karung lebih kecil supaya mudah diangkat di gudang mereka, ada juga yang meminta lapisan plastik di bagian dalam. Karena itu, jenis kemasan, berat per kemasan, dan siapa yang menyediakannya ditulis di kesepakatan dulu, sebelum Anda membeli karung dalam jumlah banyak.
Satu hal yang sering terlewat: kemasan harus baru dan bersih. Karung bekas pupuk, semen, atau beras memang murah, tetapi sisa isi dan baunya bisa pindah ke barang. Untuk rempah dan bahan pangan, aroma asing semacam itu sudah cukup untuk membuat pembeli menurunkan penilaian mutu.
Kering dulu, baru dikemas
Kadar air adalah penyebab paling umum barang rusak di perjalanan. Di halaman komoditas IDB, batasnya kami cantumkan per barang: cengkeh maksimal 12 persen, lada 13 persen, pala 10 persen, kemiri 6 persen. Cengkeh dengan kadar air di atas 12 persen mudah berjamur selama pelayaran. Kemiri yang dikemas sebelum cukup kering cepat tengik karena kandungan minyaknya tinggi, seperti dibahas di artikel kemiri untuk ekspor.
Masalahnya, karung tidak mengeringkan apa pun. Kalau barang masih menyimpan air saat dimasukkan, air itu ikut tertutup di dalam kontainer. Selama pelayaran, suhu di dalam kontainer naik turun antara siang dan malam. Uap air dari barang mengembun di dinding dan atap kontainer, lalu menetes kembali ke tumpukan paling atas. Di dunia pelayaran ini disebut container rain, dan bekasnya mudah dikenali: karung bagian atas basah dan berjamur, sementara yang di bawah masih baik.
Jadi urutannya: keringkan, ukur kadar airnya, baru kemas. Kalau Anda belum punya alat ukur kadar air, sampaikan saja dari awal. Kadar air termasuk yang kami periksa sebelum pemuatan, dan untuk cengkeh hasilnya kami cantumkan di dokumen pengiriman.
Menyimpan barang di gudang sampai hari muat
Barang yang sudah kering bisa kembali lembap kalau disimpan sembarangan. Beberapa kebiasaan sederhana ini banyak membantu:
- Taruh karung di atas palet atau alas kayu, jangan langsung di lantai semen yang dingin dan menyerap lembap.
- Beri jarak dari dinding supaya udara bisa lewat dan karung tidak menyerap rembesan.
- Lindungi tumpukan dari tampias hujan, tetapi jangan dibungkus rapat dengan terpal plastik selagi barang masih hangat dari penjemuran, karena uapnya akan terperangkap.
- Jauhkan dari pupuk, bahan bakar, atau barang berbau tajam. Rempah, kopi, dan kakao mudah menyerap bau di sekitarnya.
- Simpan per lot. Barang dari panen atau pemasok yang berbeda jangan dicampur dalam satu tumpukan tanpa tanda.
Untuk barang yang mudah busuk seperti jahe segar atau kelapa butir, persoalannya lain lagi. Jahe segar dikirim dengan kontainer berpendingin, dan kelapa butir umur simpannya terbatas, jadi jadwal pelayaran dipastikan dulu sebelum panen dilakukan. Di sini yang menentukan bukan kemasannya, melainkan waktunya.
Berat yang seragam dan penandaan yang jelas
Pembeli menghitung barang per karung. Kalau satu kontainer kopi berisi kira-kira 300 karung 60 kg, mereka berharap setiap karung memang berisi 60 kg, bukan ada yang 58 dan ada yang 63. Selisih satu atau dua kilo per karung bisa menjadi selisih ratusan kilo per kontainer, dan bagian inilah yang paling sering diperdebatkan setelah barang tiba.
Timbang setiap karung, bukan hanya beberapa sampel. Catat berat bersih (isi barangnya saja) dan berat kotor (isi beserta kemasannya), karena dua angka ini dipakai di dokumen pengiriman. Untuk menghitung berapa karung yang perlu dikumpulkan sampai satu kontainer penuh, lihat artikel berapa banyak barang untuk satu kontainer ekspor.
Soal tulisan di karung, isinya biasanya mengikuti permintaan pembeli: nama barang, berat, nomor lot, dan negara asal. Jangan menulis merek atau keterangan mutu sendiri sebelum ada kesepakatan, karena tulisan di kemasan dibaca sebagai pernyataan tentang isinya. Dari sisi Anda, yang paling penting justru nomor lot. Kalau ada keluhan, nomor itu yang membuat masalahnya bisa dilacak ke satu tumpukan, bukan ke seluruh kiriman.
Yang diperiksa sebelum kontainer disegel
Hari muat bukan waktunya memperbaiki kemasan. Dalam alur kerja IDB, mutu diperiksa sebelum barang masuk kontainer, pemuatan didokumentasikan dengan foto, lalu segel dipasang bersama petugas. Nomor kontainer dan nomor segel itu yang nanti dicocokkan pembeli ketika barang tiba. Pada pemeriksaan tersebut, yang biasanya dilihat:
- Kondisi kemasan: tidak sobek, jahitan rapat, drum tidak penyok atau rembes.
- Kadar air dan kebersihan barang dibandingkan dengan yang disepakati.
- Jumlah kemasan dan beratnya cocok dengan catatan per lot.
- Kontainernya sendiri: kering, bersih, tidak berbau, dan tidak bocor.
Kalau ada karung yang basah atau rusak, pisahkan saat itu juga. Satu karung berjamur yang ikut dimuat bisa membuat pembeli memeriksa seluruh isi kontainer dengan curiga. Untuk barang dan negara tujuan tertentu, ada juga perlakuan karantina yang disyaratkan sebelum barang dikirim. Urusan itu masuk ke dokumen yang kami siapkan sebelum barang bergerak, bersama PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) dan surat keterangan asal.
Belum yakin kemasan mana yang cocok? Tanyakan dulu
IDB bisa membantu Anda menjual barang ke luar negeri, dengan membeli barang Anda langsung atau mengirimkannya atas nama IDB, termasuk menyepakati kemasan yang diminta pembeli dan memeriksanya sebelum dimuat. Anda tidak perlu membeli karung dulu. Sebutkan jenis barang, perkiraan jumlah, cara barang disimpan sekarang, dan lokasinya lewat WhatsApp 081776744062 atau formulir di halaman ekspor lewat IDB. Dari situ kami bisa memeriksa jalur ekspor dan kemasan yang paling masuk akal untuk barang Anda.